Siapa Dia?
‘’Bagaimana pendapatmu tentang
dana yang akan kita pakai dalam Car Free Day besok?’’.
‘’ Alhamdulillah Tam, semua sudah
masuk ke kas. Kita hanya perlu mencetak brosurnya saja kok’’.
Jumat, 6 Februari 2015.
Tama Kuncoro,
ya aku kenal sekali dengannya. Orang yang begitu supel dan dingin. Pemikiran
lelaki itu sangat dewasa. Hari itu, pukul 15.00 WIB dia sedang menggelar rapat
bersama tim Forum Anti Narkoba se-SMA di Jakarta. Mereka sedang membahas
persiapan untuk kampanye anti narkoba yang digelar minggu besok.
‘’ Demikian rapat ini saya tutup,
atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Dimohon untuk Feli menghadap saya
sekarang’’. Tama menutup rapat itu seraya orang-orang pergi meninggalkan
ruangan.
………………………….
‘’Ya ada apa Tam?’’. Sayup terdengar
suara Feli dari kejauhan.
‘’Oh, untung saja kamu mendengar
panggilanku. Ini flashdisk yang
berisi brosur. Tolong cetak sebanyak 120 lembar, lalu segera lapor saya. Terima
kasih Fel’’.
Tama lalu memberikan flashdisk
berwarna merah itu kepada Feli, kemudian mereka berpisah.
………………………….
Minggu, 8 Februari 2015, pukul
05.30 WIB.
Semua
panitia sudah berkumpul di halte Busway Senayan. Rencananya, Tama akan
berkomando membagi tim menjadi 2 kelompok. Setelah dirasa semua panitia telah
datang, Tama lantas memberikan arah yang harus dilalui untuk kampanye ini.
‘’ Tim A bergerak dari sini,
sampai Dukuh Atas. Sedangkan Tim B, dari Dukuh Atas hingga Monas. Pastikan
setiap leader untuk mengaktifkan walkie-talkie
nya. Saya akan bergabung pada Tim B. Ingat, kita adalah panutan bagi remaja
SMA. Kita bukan sekedar komunitas, tetapi agen perubahan. Semangat dan sukses’’.
Tama selesai
memberikan briefing pagi. Tak lama kemudian , mereka segera berpencar sesuai
komandonya. Matahari belum sempat bersiap, tetapi jalan besar itu sudah mulai
ramai oleh masyarakat.
Dukuh Atas,
pukul 06.00 WIB.
Tama serta Tim
B sedang sibuk mencari masyarakat untuk berdialog mengenai masalah narkoba. Tak
sedikit orang yang menolak, namun tak banyak juga orang yang menerima.
Pemikiran masyarakat ini yang kemudian memacu mereka untuk lebih giat mencari
orang yang bisa menerima dan membagikan ilmunya kepada orang lain.
Hingga
akhirnya, ada 3 remaja cantik sedang berjalan-jalan santai. Tama segera
mendekati, dan mulai memberikan penyuluhan terhadap mereka.
Ketika hendak mendekati mereka,
Tama terdiam sejenak. Ia terkesima dengan salah satu wanita. Wajahnya seperti
familiar, tetapi belum satu kali pun mereka berjumpa.
‘’Permisi, boleh minta waktunya
sebentar?’’. Tama
dengan gugup mendekati ketiga gadis itu.
‘’ Iya ada apa?’’.
‘’ Jadi begini nona, ehmm.. Dik,…
apa ya’’.
‘’ Haha, tidak usah terlalu
gugup, kita masih SMA kok’’.
‘’ Oke, jadi gini. Kita dari
Komunitas Anti Narkoba se-SMA Jakarta. Kita akan menjelaskan tentang narkoba
baru yang masuk ke Indonesia’’.
‘’ Aduh, maaf mas kita
buru-buru’’. Salah satu dari ketiga gadis itu spontan menolak penjelasan Tama
diikuti temannya untuk segera pergi.
‘’ Ayo Ren, kita pergi. Paling
juga penipuan’’.
‘’ Ehm, oke terima kasih. Semoga
Car Free Day anda menyenangkan’’. Tama kikuk harus berbuat apalagi karena ia
kembali ditolak.
‘’ Apaan sih kalian, gue mau
dengerin juga. Lagipula ini penting. Udah kalian duluan aja, kita janjian di
tempat yang tadi diomongin’’.
‘’ Ah enggak ah, udah kita
nungguin lo aja. Nanti kalo Abdi Dalem nangkep kita, bisa gawat’’. Kedua gadis
itu kemudian kembali bergabung namun tetap dalam posisi curiga.
‘’ Terima kasih’’. Tama pun
tersenyum.
Tama
mulai menjelaskan kepada tiga gadis itu. Tampaknya Karen sangat serius dengan
apa yang diucapkan Tama. Sedangkan kedua teman Karen selalu mengawasi
gerak-gerik Tama.
‘’ Wah, pinter banget lo. Gua
tertarik nih dengan ajakan lo. Ehm, apa komunitas ini hanya di Jakarta aja?’’ Karen
bertanya.
‘’ Ya, saat ini kami hanya
membentuk komunitas di Jakarta. Baru berjalan seminggu’’.
‘’ Gimana kalau gua bantu lo bentuk
komunitas di Jogjakarta?
Gua kebetulan orang sana. Setuju?’’
Karen membuat kesepakatan.
Tama
berfikir sejenak.
‘’Ehm, siapa namamu?’’
‘’ Ayo Ren cepetan, ujan nih. Mas
udah ya mas nipunya, kita mau pulang dulu’’. Karen lalu ditarik oleh kedua
temannya itu kemudian lari.
‘’ Mas, tolong ambil kertas ini,
eh lu berdua sabar dong’’.
Tama
dengan sigap mengambil kertas ini lalu menatap tajam ke arah gadis itu. Belum
sempat dirinya untuk berkenalan, bahkan berjabat tangan pun mustahil. Wanita
itu seperti mengingatkannya kepada seseorang, yang……………..
Bersambung.
No comments:
Post a Comment