Sunday, March 8, 2015


Siapa Dia?
‘’Bagaimana pendapatmu tentang dana yang akan kita pakai dalam Car Free Day besok?’’.

‘’ Alhamdulillah Tam, semua sudah masuk ke kas. Kita hanya perlu mencetak brosurnya saja kok’’.

Jumat, 6 Februari 2015.

Tama Kuncoro, ya aku kenal sekali dengannya. Orang yang begitu supel dan dingin. Pemikiran lelaki itu sangat dewasa. Hari itu, pukul 15.00 WIB dia sedang menggelar rapat bersama tim Forum Anti Narkoba se-SMA di Jakarta. Mereka sedang membahas persiapan untuk kampanye anti narkoba yang digelar minggu besok.

‘’ Demikian rapat ini saya tutup, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Dimohon untuk Feli menghadap saya sekarang’’. Tama menutup rapat itu seraya orang-orang pergi meninggalkan ruangan.

………………………….

‘’Ya ada apa Tam?’’. Sayup terdengar suara Feli dari kejauhan.

‘’Oh, untung saja kamu mendengar panggilanku. Ini flashdisk yang berisi brosur. Tolong cetak sebanyak 120 lembar, lalu segera lapor saya. Terima kasih Fel’’.

Tama lalu memberikan flashdisk berwarna merah itu kepada Feli, kemudian mereka berpisah.

………………………….

Minggu, 8 Februari 2015, pukul 05.30 WIB.

                Semua panitia sudah berkumpul di halte Busway Senayan. Rencananya, Tama akan berkomando membagi tim menjadi 2 kelompok. Setelah dirasa semua panitia telah datang, Tama lantas memberikan arah yang harus dilalui untuk kampanye ini.

‘’ Tim A bergerak dari sini, sampai Dukuh Atas. Sedangkan Tim B, dari Dukuh Atas hingga Monas. Pastikan setiap leader untuk mengaktifkan walkie-talkie nya. Saya akan bergabung pada Tim B. Ingat, kita adalah panutan bagi remaja SMA. Kita bukan sekedar komunitas, tetapi agen perubahan. Semangat dan sukses’’.

Tama selesai memberikan briefing pagi. Tak lama kemudian , mereka segera berpencar sesuai komandonya. Matahari belum sempat bersiap, tetapi jalan besar itu sudah mulai ramai oleh masyarakat.

Dukuh Atas, pukul 06.00 WIB.

Tama serta Tim B sedang sibuk mencari masyarakat untuk berdialog mengenai masalah narkoba. Tak sedikit orang yang menolak, namun tak banyak juga orang yang menerima. Pemikiran masyarakat ini yang kemudian memacu mereka untuk lebih giat mencari orang yang bisa menerima dan membagikan ilmunya kepada orang lain.

Hingga akhirnya, ada 3 remaja cantik sedang berjalan-jalan santai. Tama segera mendekati, dan mulai memberikan penyuluhan terhadap mereka.

       Ketika hendak mendekati mereka, Tama terdiam sejenak. Ia terkesima dengan salah satu wanita. Wajahnya seperti familiar, tetapi belum satu kali pun mereka berjumpa.

‘’Permisi, boleh minta waktunya sebentar?’’. Tama dengan gugup mendekati ketiga gadis itu.

‘’ Iya ada apa?’’.

‘’ Jadi begini nona, ehmm.. Dik,… apa ya’’.

‘’ Haha, tidak usah terlalu gugup, kita masih SMA kok’’.

‘’ Oke, jadi gini. Kita dari Komunitas Anti Narkoba se-SMA Jakarta. Kita akan menjelaskan tentang narkoba baru yang masuk ke Indonesia’’.

‘’ Aduh, maaf mas kita buru-buru’’. Salah satu dari ketiga gadis itu spontan menolak penjelasan Tama diikuti temannya untuk segera pergi.

‘’ Ayo Ren, kita pergi. Paling juga penipuan’’.

‘’ Ehm, oke terima kasih. Semoga Car Free Day anda menyenangkan’’. Tama kikuk harus berbuat apalagi karena ia kembali ditolak.

‘’ Apaan sih kalian, gue mau dengerin juga. Lagipula ini penting. Udah kalian duluan aja, kita janjian di tempat yang tadi diomongin’’.

‘’ Ah enggak ah, udah kita nungguin lo aja. Nanti kalo Abdi Dalem nangkep kita, bisa gawat’’. Kedua gadis itu kemudian kembali bergabung namun tetap dalam posisi curiga.

‘’ Terima kasih’’. Tama pun tersenyum.

                Tama mulai menjelaskan kepada tiga gadis itu. Tampaknya Karen sangat serius dengan apa yang diucapkan Tama. Sedangkan kedua teman Karen selalu mengawasi gerak-gerik Tama.

‘’ Wah, pinter banget lo. Gua tertarik nih dengan ajakan lo. Ehm, apa komunitas ini hanya di Jakarta aja?’’ Karen bertanya.

‘’ Ya, saat ini kami hanya membentuk komunitas di Jakarta. Baru berjalan seminggu’’.

‘’ Gimana kalau gua bantu lo bentuk komunitas di Jogjakarta? Gua kebetulan orang sana. Setuju?’’ Karen membuat kesepakatan.

                Tama berfikir sejenak.

‘’Ehm, siapa namamu?’’

‘’ Ayo Ren cepetan, ujan nih. Mas udah ya mas nipunya, kita mau pulang dulu’’. Karen lalu ditarik oleh kedua temannya itu kemudian lari.

‘’ Mas, tolong ambil kertas ini, eh lu berdua sabar dong’’.

                Tama dengan sigap mengambil kertas ini lalu menatap tajam ke arah gadis itu. Belum sempat dirinya untuk berkenalan, bahkan berjabat tangan pun mustahil. Wanita itu seperti mengingatkannya kepada seseorang, yang……………..

Bersambung.